sejarah musik klasik yang rusuh
saat komposisi stravinsky memicu perkelahian massa
Pernahkah kita duduk di sebuah gedung pertunjukan musik klasik? Suasananya biasanya sangat hening. Penonton memakai baju rapi dan menjaga sikap sedemikian rupa. Batuk sedikit saja, kita bisa langsung ditatap sinis oleh deretan orang di sebelah kita. Kesannya sangat elegan, anggun, dan—mari jujur saja—terkadang sedikit membosankan. Tapi, mari kita putar waktu sejenak. Bagaimana kalau saya bilang bahwa ada sejarah di mana konser musik klasik justru memicu kerusuhan massal? Ya, kerusuhan sungguhan. Baku hantam, saling lempar barang, sampai polisi harus turun tangan. Rasanya sulit dipercaya, bukan? Kok bisa musik yang identik dengan kaum elite malah memicu keributan brutal ala mosh pit di konser musik punk?
Mari kita melakukan perjalanan waktu ke Paris, 29 Mei 1913. Malam itu, kaum sosialita Paris berkumpul di Théâtre des Champs-Élysées. Mereka datang dengan gaun sutra terbaik dan setelan jas paling mahal. Ekspektasi mereka malam itu sangat sederhana. Mereka ingin menonton pertunjukan balet yang indah, simetris, dan menenangkan jiwa. Namun, malam itu mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berjalan masuk ke dalam sebuah eksperimen psikologis yang tidak disengaja. Di balik layar, ada seorang komposer muda asal Rusia bernama Igor Stravinsky. Stravinsky sedang bersiap menyajikan karya terbarunya yang berjudul The Rite of Spring atau Le Sacre du printemps. Secara historis, Paris kala itu memang pusatnya seni dunia. Orang-orangnya merasa paling tahu soal selera yang bagus. Otak mereka sudah dikalibrasi selama bertahun-tahun untuk menerima melodi yang harmonis. Secara neurologis, otak kita memang sangat menyukai pola yang bisa ditebak. Pola membuat sistem saraf kita merasa aman dan rileks. Lalu, apa yang terjadi ketika pola itu dihancurkan dengan sengaja?
Lampu teater pun diredupkan dan pertunjukan dimulai. Alih-alih melodi biola yang mengayun lembut, penonton justru disuguhi suara bassoon yang melengking pada nada yang sangat tinggi. Suaranya aneh, seperti tercekik, dan sama sekali tidak nyaman di telinga. Lalu, tirai panggung perlahan dibuka. Bukannya deretan penari balet yang berjinjit anggun, yang muncul malah sekelompok penari dengan kostum tebal yang melompat-lompat kaku. Gerakan mereka asimetris, menghentak bumi, dan terlihat sangat primitif. Suasana di bangku penonton mulai berubah drastis. Terdengar gumaman gelisah, lalu desisan, dan akhirnya cemoohan terang-terangan. Namun, musik Stravinsky terus melaju dengan ketukan yang agresif dan ritme yang sangat acak. Kenapa penonton elite ini menjadi begitu emosional? Apakah mereka sekadar tidak suka dengan musiknya, atau ada sesuatu yang jauh lebih dalam sedang terjadi di dalam kepala mereka? Ketegangan terus menumpuk di udara gedung teater itu, seolah hanya menunggu satu pemicu kecil untuk meledak.
Dan akhirnya, gedung itu benar-benar meledak. Cemoohan penonton berubah menjadi teriakan kemarahan. Penonton yang membela karya itu dan yang membencinya mulai saling maki. Sesaat kemudian, baku hantam fisik sungguhan terjadi. Orang-orang dari kelas atas ini saling memukul menggunakan tongkat jalan. Mereka melempar barang ke arah panggung, hingga suara musiknya sendiri kalah oleh suara keributan. Koreografer balet malam itu sampai harus berdiri di atas kursi dan berteriak keras memberi aba-aba kepada para penari karena suasananya terlalu bising. Polisi pun didatangkan malam itu juga untuk melerai kerusuhan. Secara sains, apa yang sebenarnya terjadi malam itu adalah disonansi kognitif ekstrem yang memicu respons fight-or-flight. Otak manusia memiliki struktur bernama amygdala yang bertugas mendeteksi ancaman. Ketika kaum elite Paris ini mendengar suara bising dan ketukan tidak beraturan yang melanggar semua "aturan" musik yang mereka kenal, otak mereka gagal memprosesnya sebagai "seni". Alih-alih memaknainya, sistem saraf mereka menerjemahkan anomali audio yang kacau itu sebagai bahaya fisik. Secara psikologis, identitas dan realitas mereka sedang diserang. Jadi, mereka tidak sekadar marah karena musiknya jelek. Tubuh mereka secara biologis dibajak untuk melawan balik kekacauan tersebut.
Hari ini, The Rite of Spring secara universal diakui sebagai salah satu mahakarya paling jenius di abad ke-20. Karya ini sukses merevolusi bagaimana umat manusia memahami batasan dalam bermusik. Tapi kejadian kerusuhan malam itu memberi kita sebuah cermin yang sangat menarik. Kadang-kadang, saat kita berhadapan dengan ide baru yang radikal atau fakta yang bertentangan dengan kepercayaan kita, respons pertama kita adalah menolak, marah, atau bahkan menyerang balik. Secara biologis, itu respons yang sangat wajar. Otak kita memang benci dipaksa keluar dari zona nyamannya. Namun, bukankah ini momen yang tepat untuk melatih cara kita berpikir? Saat kita membaca atau mendengar sesuatu yang membuat darah kita mendidih, mungkin kita bisa mencoba mengambil napas sejenak. Kita bisa bertanya pada diri sendiri: apakah informasi ini benar-benar sebuah ancaman, atau sekadar pola baru yang belum bisa diproses oleh otak kita? Teman-teman, inovasi dan kebenaran sering kali datang dengan suara yang berisik dan tidak nyaman pada awalnya. Terkadang, kita hanya perlu duduk tenang, mengendalikan amygdala kita, dan mencoba mendengarkan keributan itu sampai kita bisa menemukan ritme barunya.